Langsung ke isi

Dia juga berjuang

25 Agustus 2008

Dalam perenungan, bagaikan melihat sebuah asap yang berekor yang akhirnya menuntunku ke sebuah perasaan mediatif.  Kakiku terhenti di depan pintu kayu sebuah rumah berbentuk limas. tiga rumah menjadi satu, yaitu dua rumas limas dan satu kampung.  Dinding rumah itu terbuat dari kayu jati untuk rumah depan sedangkan yang lainnya gedhek (anyaman bambu). Tidak, bukan sesuatu yang mewah seperti yang terbayang. Dinding tersebut hanya kayu jati yang biasa saja, maksudku, tidak dibedaki dengan pelitur. Yah, hanya rumah di ujung desa. rumah itu lebih dalam dari jalan didepan rumahnya dan dipinggir jalan yang sebelah ada sebuah saluran air irigasi dari sebuah Sumur Bor.

Segera setelah pintu terbuka, seorang pria tua dengan tinggi hanya sebahuku dengan tergopoh-gopoh menyambutku dengan rasa gembira. Luar biasa, perasaan seorang kakek ketika cucunya datang.  Walau aku bukan cucunya,  karena kakekku itu adalah anak dari paman kakekku yang sebenarnya. Tetapi hubungan kami boleh dibilang sangat dekat.

Sepintas aku tidak dapat membayangkan, ketika dimasa mudanya dia dengan mampu menggotong sebuah bom yang besarnya separo tubuhnya dari Jogja ke Ambarawa dengan berjalan kaki. Waktu dulu ketika terjadi sebuah pertempuran yang kemudian dikenal dengan pertempuran Ambarawa. Ketika dia bercerita, terlihat kebanggaannya akan kenangannya dimasa perjuangan. Sekarang dia dapat melihat, setidaknya anak dan cucunya tidak hidup dalam kesesakan seperti yang pernah dilaluinya.

Beberapa tahun yang lalu dia telah pergi,

tidak dengan ujung peluru yang menghujam tubuhnya,

yang membawanya kembali kepangkuan bumi pertiwi,

yang membawanya naik melayang ke bapak angakasa,

yang menghadapkannya menemui sang Khalik.

Oleh karena sebuah televisi yang menimpanya dari atas almari (buffet) membuat beliau pada waktu itu tidak sadarkan diri dan akhirnya tidurlah ia untuk selamanya.

Sebuah batu yang melintang ke utara dan selatan,

kini terbaring diantar batu-batu yang lain

dia tinggalkan untuk mengenangnya

bagi generasi yang peduli dengan perjuangan.

 

 

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.