Memaknai Kemerdekaan !
Panjat pinang ? memanjat batang pohon pinang yang diolesi dengan oli bekas selain sulit karena licin juga bikin badan menjadi kotor. Kegiatan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan RI ke-63 ini, di desaku lain dari sebelumnya, yeah, selama 7 tahun terakhir selama aku berdomisili disana.
Ada 12 batang pohon pinang yang tertancap di tanah lapang itu. Masing masing diperuntukkan bagi satu pedusunan. Padahal satu dusun dapat terdiri dari lebih 2 kampung. Sehingga diambil kebijaksanaan setiap kampung hanya dapat mewakilkan 2 tiam. Satu tim terdiri dari 5 orang.Rame, sore itu rame. Jalan di selatan dan timur lapangan sampai macet karena di penuhi penonton. Di pinggir lapangan sebelah timur dan utara pemuda kampung terdekat sibuk menjadi petugas parkir dadakan, biasa 1000 rupiah per sepeda motor dikalikan pengunjung.
Dari sini Merapi dapat terlihat dengan jelas dan kokoh.
“Suuueeer, baru seumur-umur kali ini aku ikut. Hai…, jangan kau ketawa !”. Tidakkah kau lihat celana yang kupakai, sedikitpun aku tidak berencana ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Jikalau anakku tidak dengan tiba-tiba berucap “mbok, bapak ikut…!”
Ndelok, kendel alok itu bahasa jawa yang artinya penonton hanya sebatas berani berkomentar. Bahwa manjadi bagian tim panjat itu gampang, mudah dan sederhana. Pada praktiknya, tidak hanya pundak, punggung, pinggul, tangan dan kaki bahkan sang kepala ini dijadikan batu pijakan. “Kurang ajar”.
Tapi lihatlah, mereka tidak ada yang mempermasalahkan betapa tubuh dan kepala terinjak oleh yang lain. Tim adalah kelompok yang mempunyai tujuan akhir sama yaitu sampai ke puncak. Memang tidak semuanya, hanya pemanjat yang terakhir. Tetapi setiap posisi mempunyai arti dan peran.
Yang pasti, bung …! tidak mudah memanjat seseorang yang berdiri dan apalagi bertelanjang tubuh.